Dalam seminggu ini hampir setiap hari sepulang dari aktivitas bekerja. Satu hal yang saya kerjakan adalah melihat tayangan salah satu program anak di stasiun swasta dengan tajuk acara Liburan bersama si Unyil. Ya, ya, satu acara yang di putar sebelum acara favorit saya : Bolang- Bocah Petualang.
Tak ada yang salah dengan acara si Unyil yang dengan kenesnya berjalan-jalan di setiap kota. Atau memberikan info-info seputar tema yang sedang di bicarakan. Malah saya merasa inilah kemasan hiburan yang mesti di tawarkan oleh para produsen TV. Dan jujur, saya sangat menikmati acara tersebut :)
Hanya ada satu yang mengganjal di pikiran saya. Coba kalau anda simak baik-baik pasti ada satu hal yang bagi saya akan “meracuni” anak-anak untuk berbuat tidak bertanggung jawab.
Loh, kok bisa? Tentu saja bisa. Masih saya ingat ketika Unyil berkunjung dan bercerita tentang karapan sapi. Sampai menceritakan tentang proses pengambilan susu sapi. Disitu Unyil akan mengambil sekotak susu yang telah di kemas. Eeh..mungkin karena licin ataupun karena tangan si Unyil tak bisa menjangkau tumpukan susu tersebut. Tiba-tiba…BROOOLL…(Aduh adakah kiasan suara yang cukup bagus selain itu? hihihii..) tumpukan kotak susu tersebut berjatuhan di lantai. Dan apa yang terjadi? Si Unyil malah kabur sambil ngomong kayak gini :
“Yah..jatuh, Unyil takut ketauan…kabur aja aaah…”
Pertama kali saya tonton. Saya masih memakluminya. Mungkin dalam pikiran sang pembuat cerita, si Unyil takut ketauan menumpahkan tumpukan susu tersebut. Dan saya sekali lagi bisa memakluminya.
Tapi kok, lama-lama tiap edisi kejadiannya pasti berulang kembali. Saat saya menonton edisi pembuatan abon sapi. Hal tersebut terjadi lagi! Unyil diperlihatkan menengok ke kiri dan ke kanan kemudian berniat mengambil satu kemasan abon sapi. Kemudian yang terjadi adalah : sang tumpukan abon berjatuhan di lantai. AGAIN! Unyil berkata “Yah, jatuh…kabuuur aja ah..” dan Unyil terlihat berlari-lari meninggalkan tumpukan abon yang tercecer di bawah (anda semua tentu bisa memvisualisasikannya kan hihihi…)
Trus edisi pembuatan sepatu. Kotak sepatu terjatuh. Unyil kabur.
Edisi ketika Unyil berlibur pun sama persis. Lagi-lagi unyil kabur.
So, dalam pikiran saya adalah :
Unyil melakukan tindakan yang salah dengan kabur dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya.
Pola yang sama terjadi berulang-ulang dalam setiap edisi. Lama-lama saya jengah juga melihatnya. Saya tidak bisa membayangkan jika adik kecil saya melihat tayangan tersebut (dan saya sejuta persen yakin adik saya melihat acara si Unyil) apa bahkan tidak mungkin terjadi sang anak yang tak di temani oleh kakaknya atau orang tuanya saat menonton acara tersebut, akan mengikuti jejak tingkah laku Unyil?! Kabur menyelamatkan diri setelah melakukan perbuatan yang “tidak baik”.
Sekali waktu saya bisa mengingatkan adik saya agar tidak melakukan hal tersebut. Tapi, jika setiap edisi berulang-ulang menampilkan hal yang sama. Apa malah akan meracuni pikiran anak secara tak langsung?? Mbok ya, mengapa tim kreatif tidak melakukan dialog semisal “ Aduhh..jatuh deh…waduh unyil harus membereskannya nih!” atau dialog :
“Aduuh, unyil minta maaf telah menjatuhkan barangnya…maafin unyil yah..!”
bukan malah lagi-lagi terjadi “Ya, jatuh deh! Aah..unyil harus cepat-cepat kabur nihh..”
Aduuh…saya mohon untuk pembuat naskah ataupun tim kreatif nya Si Unyil. Mohon diperhatikan bagian tersebut. Bukankah sedini mungkin kita ingin mengajarkan arti tanggung jawab terhadap anak-anak kita?
Tulisan ini di buat bukan untuk mendiskreditkan acara tersebut :) tapi ini adalah bukti rasa sayangnya saya terhadap acara tersebut:) |