Tahun 2006 kemarin, di tempat kelurahan Cikutra Barat ngadain aneka lomba dalam rangka memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus. Lomba-lomba yang diadakan hampir sama di setiap daerah, semisal balap karung, lomba makan kerupuk, tarik tambang, sampai panjat pinang. Hanya untuk tahun kemarin, Gabungan RT mengadakan lomba pertunjukan seni. Tiap-tiap RT harus menampilkan pertunjukan seni. Uniknya di kelurahan tersebut perlombaan-perlombaan dalam rangka memeriahkan HUT RI tidak selalu di adakan tepat tanggal 17 Agustus, tapi biasanya di atas tanggal 25 Agustus :)
Sebagai anak kost yang baik dan selalu mengikuti kegiatan, dan sudah terkenal di kalangan ibu-ibu pengajian plus senam aerobic (plus ajang tawar menawar perjodohan tentunya hehehe). Saya pun harus ikut andil memeriahkan. Dan untuk tahun 2006 sepakat akan mengadakan pentas seni 17-an. Setelah rembukan dengan warga yang berada di RT 11, akhirnya sepakat ingin menampilkan kesenian yang berbeda. Hampir beberapa RT menampilkan modern dance dengan lagu dangdut SMS yang sedang happening saat itu :P (Bayangin aja dari 15 penampil lima di antaranya berdangdut SMS bow!) dan RT 11 tempat teman saya menclok ingin menampilkan tari kesenian tradisional.
Terpilihlah tiga tarian yaitu tari kuda lumping untuk anak laki-laki, tari yapong dan tari merak untuk anak perempuan. Waktu yang hanya dua minggu digunakan full untuk latihan menari.
Duh, mengajar menari buat anak-anak kecil itu ternyata ribet! Saya yang waktu itu belum berniat untuk belajar tari tradisional hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kericuhan dan kehebohan serta jerit histeris sang teman dalam mengajar tarian. Sedang saya hanya bisa melihat serta memperhatikan mana saja anak-anak yang tidak serius untuk berlatih. Sehingga mereka pun mengira kalau saya ini adalah guru tari hihihihi..secara dengan mengikuti lenggak lenggok plus muka galak kalo mereka bercanda hehehhee
Karena menari tradisional. Otomatis kita pun perlu kostum untuk di panggung. Perjuangan mencari kostum ini yang sangat sulit. Setelah muter-muter tanya kiri dan kanan, akhirnya saya dan si Putih mendatangi guru tarinya jaman dulu. Menyewa kostum dengan budget yang terbatas untuk kostum tari merak. Untuk kostum tari Yapong, saya, Putih dan Mamihnya Putih sibuk membuat bulatan-bulatan untuk kerah baju, gelang tangan, dan mahkota dari kertas karton yang di tempel kertas minyak yang gemerlap. Hasilnya! Dengan dana terbatas kostum tari Yapong pun tampak berkilau di panggung! Hanya dengan modal karton, lem dan kertas minyak serta benang. Bangganya!
Acara panggung 17-an pun di mulai. Detik-detik untuk naik panggung pun tiba. Sore harinya anak-anak udah pada ribut untuk mengenakan kostum dan minta di make up. Semuanya ribut dan ingin di make up. Dan disinilah keahlian merias saya terpakai :D. Dengan gaya bak penata make up yang handal. Saya pun kebagian untuk me make up dan memakaikan busana kostum tari merak. Pake mascara, pake gliter, pake scot biar mata berkilat. Bedak tebal dan make up panggung pun mesti beda dengan riasan biasa. Soalnya kalo di panggung bakalan di sorot oleh lampu terang. Sehingga make up pun mesti sempurna! Halagh udah kek tukang rias professional ajah hahahha.. bener-bener banyak Artis yang mau tampil kudu di rias hihihihihi...
Haduuuhh…mau manggung tujuh belasan aja crowdednya minta ampun. Secara yang mau manggung anak-anak kecil usia 4-5 SD jadi agak sedikit repot. Belum lagi perkataan
“Teh Ry, kenapa yang punya Nanda gelangnya warna merah, tapi yang punya Novi warnanya Pink. Iih ganti, pengen yang warna merah juga!”
“Teteh, sanggul Neng lepas. Benerin dulu yang punya Neng, benerin sekarang dong Teh!”
“Mana kudanya? Kuda lumping nya kepanjangan talinya.. gimana atuh? Nden nggak bisa pakenya.”
“Teteh, sarung Davin merosot, kumaha atuh..” “Neng Ry, ini dulu atuh yang dikerjain, punya Agi dulu..” (Nah kalo yang ini adalah ucapan dari ibu-ibu :D)
Yups! Bukan saja riweuh oleh ucapan anak-anak yang mau mentas, tapi Ibu-ibu yang anak-anaknya mau manggung pun ikutan ribut. Bisa di maklumi, mana ada orang tua yang mau anaknya di nomer duakan. Makanya saya hanya bisa senyum-senyum simpul dan lirik-lirikan mata sama si Putih teman saya yang sama-sama ribet ngurusin anak-anak lainnya. Ya iya lah! Emak-emaknya semua pada bawel hehehhe..
Alhamdulillah, perwakilan dari RT kita semuanya lolos. Dan nggak di sangka dan di duga, ternyata penampil terbaik akan diikut sertakan lomba di tingkat kelurahan. Tentu saja semua rasa cape terbayar sudah. Seperti yang telah terbayangkan, jasa untuk Make up pun sepertinya akan kembali terpakai :D
Tujuhbelasan 2006 yang berkesan.
MERDEKA!! |